Minggu, 03 Juli 2016

DEMOKRASI MUSYAWARAH

Entah dimana letak demokrasi dan musyawarah di negara ini saya tidak paham. Dikatakan negara Indonesia adalah negara yang beraneka ragam suku dan bangsa, tetapi apakah memang suku dan bangsa di negara kita dapat hidup rukun dan saling membantu satu sama lain?

Pertanyaan besar bagi para petinggi negara, ‘Apakah sudah dijalankan yang mereka katakan ingin menyamaratakan hak tiap warga negara?’
Yang dapat kita lihat disini bila kita tinggal dan hidup di Indonesia yakni adanya diskriminasi yang besar-besaran, kita tau betapa susahnya memimpin suatu negara beserta rakyat yang beraneka ragam. Tetapi tidak dapatkah para pemerintah dalam hal ini lebih memperhatikan warga?

Ada apa dengan yang namanya warga keturunan? Kenapa mereka hingga sekarang di beda-bedakan hak-nya? Begitu banyaknya warga keturunan di Indonesia yang memang sudah memiliki KTP negara dan tinggal sedari mereka masih di kandungan, lahir, dan besar di Indonesia pun tetap saja bila mereka berkulit putih, mata sipit, ataupun berbeda dengan lainnya maka mereka pun akan diperlakukan berbeda, entah itu dalam mengurus urusan negara di persusah kecuali mengeluarkan dana lebih. Apa mungkin pemikiran bahwa orang keturunan yang ada di Indonesia semua kaya raya? Kalian pikir kami berak emas? Atau semuanya adalah para agen judi dan mafia?

Mohon lebih bijak lah dalam bertindak dan berbuat, sesama manusia dan orang indonesia, kita sama-sama makan nasi, hidup juga bekerja mencari nafkah, tidak ada bedanya dengan warga pribumi. Lalu kenapa untuk kerja di badan pemerintahan saja masih membanding-bandingkan?


Apa memang orang indonesia itu bodoh hingga tidak tertolong lagi? (maaf saya juga pribumi, tapi memiliki banyak teman dari etnis tionghoa dan saya heran dengan kelakuan warga kita) Sebagai tambahan saja, bila terjadi masalah besar-besaran dan orang tionghoa semua yang ada di sini menarik diri dan bisnis yang mereka miliki di Indonesia, maka sekejap itu pula Indonesia akan semakin melarat dengan tidak adanya penyokong terbesar perekonomian di sini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar